Sunday, March 11, 2012

StoryPlan : Blood Ring Prolog


PROLOG

Pintu tak terkunci. Pintu ruangan yang selalu dirahasiakan oleh seluruh keluarga besar Walter kini tak terkunci dan terbuka kurang dari satu per empatnya, dan membuat lelaki usia dua puluh tahunan dengan wajah heran tergoda untuk melihat ke dalam dan mencari kebenaran. Lelaki itu memutuskan untuk melangkahkan kakinya masuk. Dan dia terkejut sejenak saat gagang pintu itu disentuh, didorong, seakan waktu terhenti sejenak.

Ruangan itu layaknya perpustakaan kecil di rumah tua keluarga besar Walter. Dipenuhi dengan buku-buku tua, dengan bau yang khas, ditambah dengan bau rak kayu yang masih berdiri kokoh mengelilingi dinding ruangan itu.

Seakan berada di dalam film fantasi klasik dengan ruang rahasia berupa perpustakaan kecil di sebuah rumah tua. Fantasi itu seakan nyata! Pikir lelaki itu. Kemudian melangkah mengitari kumpulan rak-rak buku di perpustakaan kecil itu.
Ada sebuah benda yang menarik baginya. Sebuah kotak berbeludru merah dan wrna keemasan di tiap pinggir sisi kotak itu. Dengan kunci di bagian sisi depannya dan sebuah lambang di bagian atas sisinya. Sepintas seperti huruf V dan W dengan gambar seperti sayap kelelawar.
V dan W? Seperti nama merk mobil saja. Hmph. gumamnya sedikit geli.

Lelaki itu tak terlalu mempedulikan lambang, dan ia mulai membuka kotak itu.
Sesaat ia terkejut dengan apa yang ia temukan di dalamnya.
Sepasang cincin?
Lelaki itu menggelengkan kepala seakan tak habis pikir ada sepasang cincin unik dan cukup berkelas ada di perpustakaan kecil di rumah tua keluarga besar Walter. Dengan rasa penasaran yang memuncak, ia mulai mengambil dan hendak memasangkan ke jari manisnya.
Dan...

"Fahrenheit!" suara menggelegar itu terdengar tiba-tiba di depan pintu masuk yang kini terbuka lebar.

Pria tua bertubuh gemuk dengan rambut dan jenggot yang dominan berwarna putih itu mendekat ke arah lelaki itu. Dan menatap kaget ketika melihat cincin itu pas di jari lelaki yang ia sebut Fahrenheit. Seketika itu juga Fahrenheit yang berdiri di hadapannya jatuh lemas dan tak sadarkan diri.

"Cincin itu...!?" ucap pria tua itu memperhatikan jari manis Fahrenheit.

No comments:

Post a Comment

said